Cari Blog Ini
Selasa, 19 Februari 2013
Kamis, 14 Februari 2013
CERPEN
KENANGAN CINTA
Kepedihan
Darto berawal dari kisah percintaannya kepada gadis anak tuan tanah di desanya. Hari
berlalu berganti,Tak terasapun dahan dan ranting yang menjadi pemandangan
rumahnya kini telah menguning. Suasana desa amat terasa ketika desiran jangkrik
terdengar merdu ditemani kicauan nuri peliharaan Darto. Sebuah pejalanan wajar
dari seorang insan pencinta terlukis dari seorang miskin bernama lengkap
Sudarto, Jalan tanah yang setiap hari menemani Darto menuju lahan garapan milik
juragannya menjadi saksi bisu gejolak cinta yang menggrogoti hatinya. Suatu
ketika saat adzan dhuhur berkumandang, Berhentilah Darto dari pekerjaannya, sejenak
ia menghela nafas dan mencicipi makan siang yang ibu bungkuskan dari
rumah, Tanpa ia sadari ia terlarut dalam
lamunan panjang tentang perjalanan mengubur cintanya pada anak tuan tanah di
desanya, Lamunan ini mengingatkan Darto saat ia bekerja menjadi buruh kebun
dirumah pak Kardi, ayah dari Mirna. Lemparan sandal kayu masih terasa pada dada
kiri darto hingga saat ini, Waktu itu tanpa disadari benih-benih cinta Darto
muncul dari pandangan pertamanya terhadap Mirna. Waktu kerjanya secara tak
sengaja menumbuhkan perasaan lebih pada anak juragan Kardi. Curi pandang cari
perhatian ia lakukan disetiap pagi saat Daro menyapu halaman gedung megah milik
Mirna. Kekaguman akan kecantikan serta kelembutan kulit mirna membuat Darto
merasa bahwa ia adalah lelaki yang sederajat dengannya, tapi itu hanyalah
anggapan seorang Darto yang berhayal terlalu tinggi. Semangat bekerjanya kian
hari kian menggelora hal yang seharusnya tidak ia kerjakan kini menjadi sunah
sekadar untuk mencari waktu agar bisa melihat Mirna, Gadis cantik lembut
dambaan Darto ini memang masih duduk dibangku SMA namun kedewasaan dan kesopanan yang ia miliki menutupi
umurnya yang masih belia. Gadis berprestasi ini menjadi harapan ayahnya satu
satunya setelah dua tahun lalu kakaknya meninggal karena sakit, hal itulah yang
membuat ayahya begitu memperhatikan Mirna. Semua yang dibutuhkan Mirna tak
satupun yang tak dituruti ayahya, Tak seperti Darto yang hanya ingin membeli
sepeda onta saja harus mendapat cemoohan dari ibunya, namun kesemua itu memang
karena keadaan keluarga Darto yang sungguh sangat berubah semenjak ayahnya
pergi dan menikah lagi dengan wanita lain. Nafas Darto dan ibunya kini hanya
bergantung pada gorengan yang ibunya jual dipasar dan penghasilan Darto yang
tidak menentu. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaan Keluarga Mirna. 3
bulan sudah Darto menjadi tukang kebun keluarga Mirna, Rasa itu begitu cepat
tumbuh dan semakin Darto lupa aka nasal usulnya, Duduklah ia disebuah jingklik
belakang rumah Mirna tak disengaja Mirna keluar ingin membuang bungkus jajanan
yang ia makan, melihat Darto melamun Mirnapun menyadarkan Darto dari
lamunannya. Darto kaget dan semakin kaget ketikan yang ada didepan matanya
adalah Mirna. Nada gagap orang gerogi muncul pada seorang Darto ketika menjawab
pertanyaan Mirna. Seperti tertimbun bunga lafender ternyata yang dirasakan
Darto, percakapan demi percakapan mulai tumbuh diantara mereka hingga Darto
lupa mematikan Air keran bak mandi yang sudah penuh. Tanpa pamit Darto
meninggalkan Mirna menuju keran yang lupa ia matikan, namun disitu berdiri
juragannya yang sedang memegang selang dan mematikan keran, untung saja ayah Mirna
tidak marah hanya sedikit mengingatkan Darto. Saat saat indahnya bersama Mirna
membuat Darto tersenyum hingga Darto terlelap tidur dirumahnya malam itu,
Keesokan paginya semangat kerja Darto berlipat ganda seperti seorang direktur
yang barusaja memenangkan tender besar. Sampailah Darto dirumah Mirna, saat itu
Mirna akn berangkat sekolah dengan diantar mobil Mercy Tiger yang dibawa
ayahnya, pandangan kosong Darto mengantarkan mirna keluar menuju gerbang
rumhnya. Cukup lama ia melamun dan berhayal indah membayangkan ia menjadi
kekasih Mirna. Selang berapa waktu ia tersadar dari lamunannya dan kembali ia
bekerja seperti biasa. Gemrisik sapu lidi yang Darto ayunkan menemaninya
berfikir bahwa jodoh tidak pandang usia, tahta dan harta, sedikit menghibur
hatinya sendiri bahwa ia benar benar yakin akan cintanya pada Mirna, Siang
kurnag lebih pukul 14.00 Mirna pulang sekolah dan ketika ia Mirna hendak masuk
dedalam rumahnya, dengan wajah kusut dan pakaian kotor Darto dengan tegas
mengatakan isi hatinya pada Mirna, meskipun ia sadari pak Kardi berada di
sampingnya,, ia mengatakan bahwa ia mencintai Mirna dan ingin menjadikannya
calon pasangan hidup, Mirna kaget dan sedikit tercengang tak banyak yang ia
pikirkan hanya merasa heran siiringi bangga ternyata ada orang yang
menyayanginya sebaik Darto, namun seketika ayah Mirna marah dan membentak Darto
dengan kata kata tidak sopan, namun Darto bersi kukuh untuk menyelesaikan “proses
penembakannya” pada Mirna. Mendengar perkataan Darto yang makin ngelantur
kemarahan pak Karti tidak terbendung lagi dan akhirnya dilemparnya sandal kayu
yang ada di depan pintu rumahnya tepat didda Darto, sungguh saat itu Darto baru
terdiam dan menyadari bahwa ia buanlah orang yang pantas bersanding di samping
seorang Mirna yang anak orang kaya,
Dengan hati kecewa dan sakit Darto meminta
maaf pada Mirna dan ayahnya, waktu itu juga ia pamit untuk tidak lagi bekerja
disana, Langkah kaki lesu Darto menuju rumahnya terhenti ketika Mirna memanggil
Darto, Mirna berlari dan memegang tangan Darto kemudian ia berkata “maafkan
ayahku, aku senang ada orang baik yang menyayangiku seperti kamu, jika keadaan
orang tuaku tak seperti ini akupun tak memungkiri bahwa aku bisa menyayangimu”.
Darto tetap saja tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dari wajahnya, kembalilah
ia berjalan dan berfikir mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Mirna,
Pertemuan terakhir yang sungguh sangat menyedihkan dan takkan terlupakan. Tak
terasa Hujan turun begitu derasnya dan wajah Darto tertetes hingga iapun tersadar dalam lamunan panjang, sesadarnya ia
tersenyum dan berkata dalam hati “meskipun aku terluka dan tak bisa hidup
dengan Mirna, namun cintaku yang tulus mengirimkan doa agar ia selalu bahagia
disana.”
“The End”
Kamis, 31 Januari 2013
BOCAH GELAS PLASTIK
Apa yang anda pikirkan ketika
melihat bocah yang menenteng bekas wadah miuman yang dijadikan tempat menampung receh pada zaman yang lebih dari
modern ini?
Dengan keberadan teknologi yang
sudah melampaui batas kecukupan dikonsumsi oleh manusia, dan ketersediaan
fasilitas pendidikan yang kini mampu menyaingi kualitas pendidikan diluar
negeri, ternyata masih ada manusia yang harus merelakan masa mudanya demi
memenuhi kebutuhan hidup sehari hari,,,
Beberapa
Bocah kira-kira berusia belasan tahun “NGLEKAR” di pinggiran traficlight sambil merasakan panasnya
sengatan matahari menimbulkan beberapa pertanyaan negatif tentang pendidikan
khususnya di Indonesia. Ketersediaan Bantuan Operasional Sekolah dan wajib
belajar 9 tahun seharusnya dapat merubah keadaan ini, mereka tidak perlu
membutuhkan biaya untuk SPP atau yang lain karena memang dana tersebut
diperuntukan bagi siswa yang kurang mampu khususnya dalam pembelajaran wajib
belajar 9 tahun.
Namun
ada beberapa faktor lain yang menyebabkan mereka lebih memilih untuk mencari
nafkah dibandingkan harus menuntut ilmu disekolah yang diantaranya adalah masalah
“kewajiban”. Kemiskinan menjadi masalah utama di Negara berkembang, begitu juga
di Indonesia. Latar belakang itulah yang menyebabkan mereka para bocah harus
merelakan indahnya masa bermain demi sesuap nasi, untuk dirinya juga
keluarganya, itulah yang disebut dengan “tanggung jawab” banyak hal lain
sebenarnya yang melatar belakangi mereka menjadi seorang “murah tangan”, namun yang perlu dipikirkan adalah bagaimana supaya kesemua latar belakang tersebut tidak
menjadi alasan para bocah untuk tidak sekolah. Usaha pemerintah dalam mengatasi
kemiskinan harus lebih ditingkatkan dalam hal ini sebagai wujud penyelamatan
generasi penerus bangsa, selain itu juga perlu adanya pemahaman yang
ditumbuhkan pada setiap orang tua untuk lebih mementingkan pendidikan anaknya,
karena dengan pendidikan yang cukup saya yakin mereka bisa mendapatkan lebih
dari sekadar menunggu belah kasian orang di jalan,,
Sebagai
warga yang lebih terpelajar mari kita renungkan bersama keadaan yang memilukan
ini sebagai wujud keprihatinan kita terhadap mereka generasi penerus bangsa.
Rabu, 30 Januari 2013
SERasa
Gundah saat mata terjaga
Silau meskipun tertutup kelopak
Melirik takut tak melirik berdetak kencang jantungku
Diam bagai terguncing berpolah bagai digunting
Aku
hanya numpang bernafas disini
Hanya
sehirup udara yang ku minta
Tak akan udaramu yg ku hirup
Tak juga pemandangan indahmu ku
tatap
Aku hanya memijak sejengkal tanah
Hanya sejengkal yang ku minta
Bukan tanah tempat istanamu menjulang
Bukan juga Altarmu yang kujadikan tempat bersandar
Aku tak tertarik untuk hidup di duniamu
Lebih baik aku mersakan sesak nafas daripada aku menghirup
hak udara saudaraku yang kini juga merasa sesak..
Aku lebih memilih ikut merasakan sesak daripada menyesakkan…
Langganan:
Komentar (Atom)