Cari Blog Ini

Kamis, 14 Februari 2013

CERPEN


KENANGAN CINTA


Kepedihan Darto berawal  dari  kisah percintaannya  kepada gadis anak tuan tanah di desanya. Hari berlalu berganti,Tak terasapun dahan dan ranting yang menjadi pemandangan rumahnya kini telah menguning. Suasana desa amat terasa ketika desiran jangkrik terdengar merdu ditemani kicauan nuri peliharaan Darto. Sebuah pejalanan wajar dari seorang insan pencinta terlukis dari seorang miskin bernama lengkap Sudarto, Jalan tanah yang setiap hari menemani Darto menuju lahan garapan milik juragannya menjadi saksi bisu gejolak cinta yang menggrogoti hatinya. Suatu ketika saat adzan dhuhur berkumandang, Berhentilah Darto dari pekerjaannya, sejenak ia menghela nafas dan mencicipi makan siang yang ibu bungkuskan dari rumah,  Tanpa ia sadari ia terlarut dalam lamunan panjang tentang perjalanan mengubur cintanya pada anak tuan tanah di desanya, Lamunan ini mengingatkan Darto saat ia bekerja menjadi buruh kebun dirumah pak Kardi, ayah dari Mirna. Lemparan sandal kayu masih terasa pada dada kiri darto hingga saat ini, Waktu itu tanpa disadari benih-benih cinta Darto muncul dari pandangan pertamanya terhadap Mirna. Waktu kerjanya secara tak sengaja menumbuhkan perasaan lebih pada anak juragan Kardi. Curi pandang cari perhatian ia lakukan disetiap pagi saat Daro menyapu halaman gedung megah milik Mirna. Kekaguman akan kecantikan serta kelembutan kulit mirna membuat Darto merasa bahwa ia adalah lelaki yang sederajat dengannya, tapi itu hanyalah anggapan seorang Darto yang berhayal terlalu tinggi. Semangat bekerjanya kian hari kian menggelora hal yang seharusnya tidak ia kerjakan kini menjadi sunah sekadar untuk mencari waktu agar bisa melihat Mirna, Gadis cantik lembut dambaan Darto ini memang masih duduk dibangku SMA namun  kedewasaan dan kesopanan yang ia miliki menutupi umurnya yang masih belia. Gadis berprestasi ini menjadi harapan ayahnya satu satunya setelah dua tahun lalu kakaknya meninggal karena sakit, hal itulah yang membuat ayahya begitu memperhatikan Mirna. Semua yang dibutuhkan Mirna tak satupun yang tak dituruti ayahya, Tak seperti Darto yang hanya ingin membeli sepeda onta saja harus mendapat cemoohan dari ibunya, namun kesemua itu memang karena keadaan keluarga Darto yang sungguh sangat berubah semenjak ayahnya pergi dan menikah lagi dengan wanita lain. Nafas Darto dan ibunya kini hanya bergantung pada gorengan yang ibunya jual dipasar dan penghasilan Darto yang tidak menentu. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaan Keluarga Mirna. 3 bulan sudah Darto menjadi tukang kebun keluarga Mirna, Rasa itu begitu cepat tumbuh dan semakin Darto lupa aka nasal usulnya, Duduklah ia disebuah jingklik belakang rumah Mirna tak disengaja Mirna keluar ingin membuang bungkus jajanan yang ia makan, melihat Darto melamun Mirnapun menyadarkan Darto dari lamunannya. Darto kaget dan semakin kaget ketikan yang ada didepan matanya adalah Mirna. Nada gagap orang gerogi muncul pada seorang Darto ketika menjawab pertanyaan Mirna. Seperti tertimbun bunga lafender ternyata yang dirasakan Darto, percakapan demi percakapan mulai tumbuh diantara mereka hingga Darto lupa mematikan Air keran bak mandi yang sudah penuh. Tanpa pamit Darto meninggalkan Mirna menuju keran yang lupa ia matikan, namun disitu berdiri juragannya yang sedang memegang selang dan mematikan keran, untung saja ayah Mirna tidak marah hanya sedikit mengingatkan Darto. Saat saat indahnya bersama Mirna membuat Darto tersenyum hingga Darto terlelap tidur dirumahnya malam itu, Keesokan paginya semangat kerja Darto berlipat ganda seperti seorang direktur yang barusaja memenangkan tender besar. Sampailah Darto dirumah Mirna, saat itu Mirna akn berangkat sekolah dengan diantar mobil Mercy Tiger yang dibawa ayahnya, pandangan kosong Darto mengantarkan mirna keluar menuju gerbang rumhnya. Cukup lama ia melamun dan berhayal indah membayangkan ia menjadi kekasih Mirna. Selang berapa waktu ia tersadar dari lamunannya dan kembali ia bekerja seperti biasa. Gemrisik sapu lidi yang Darto ayunkan menemaninya berfikir bahwa jodoh tidak pandang usia, tahta dan harta, sedikit menghibur hatinya sendiri bahwa ia benar benar yakin akan cintanya pada Mirna, Siang kurnag lebih pukul 14.00 Mirna pulang sekolah dan ketika ia Mirna hendak masuk dedalam rumahnya, dengan wajah kusut dan pakaian kotor Darto dengan tegas mengatakan isi hatinya pada Mirna, meskipun ia sadari pak Kardi berada di sampingnya,, ia mengatakan bahwa ia mencintai Mirna dan ingin menjadikannya calon pasangan hidup, Mirna kaget dan sedikit tercengang tak banyak yang ia pikirkan hanya merasa heran siiringi bangga ternyata ada orang yang menyayanginya sebaik Darto, namun seketika ayah Mirna marah dan membentak Darto dengan kata kata tidak sopan, namun Darto bersi kukuh untuk menyelesaikan “proses penembakannya” pada Mirna. Mendengar perkataan Darto yang makin ngelantur kemarahan pak Karti tidak terbendung lagi dan akhirnya dilemparnya sandal kayu yang ada di depan pintu rumahnya tepat didda Darto, sungguh saat itu Darto baru terdiam dan menyadari bahwa ia buanlah orang yang pantas bersanding di samping seorang Mirna yang anak orang kaya,
 Dengan hati kecewa dan sakit Darto meminta maaf pada Mirna dan ayahnya, waktu itu juga ia pamit untuk tidak lagi bekerja disana, Langkah kaki lesu Darto menuju rumahnya terhenti ketika Mirna memanggil Darto, Mirna berlari dan memegang tangan Darto kemudian ia berkata “maafkan ayahku, aku senang ada orang baik yang menyayangiku seperti kamu, jika keadaan orang tuaku tak seperti ini akupun tak memungkiri bahwa aku bisa menyayangimu”. Darto tetap saja tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dari wajahnya, kembalilah ia berjalan dan berfikir mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Mirna, Pertemuan terakhir yang sungguh sangat menyedihkan dan takkan terlupakan. Tak terasa Hujan turun begitu derasnya dan wajah Darto tertetes hingga iapun  tersadar dalam lamunan panjang, sesadarnya ia tersenyum dan berkata dalam hati “meskipun aku terluka dan tak bisa hidup dengan Mirna, namun cintaku yang tulus mengirimkan doa agar ia selalu bahagia disana.”
“The End”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar