Cari Blog Ini

Kamis, 31 Januari 2013

BOCAH GELAS PLASTIK


Apa yang anda pikirkan ketika melihat bocah yang menenteng bekas wadah miuman yang dijadikan tempat  menampung receh pada zaman yang lebih dari modern ini?
Dengan keberadan teknologi yang sudah melampaui batas kecukupan dikonsumsi oleh manusia, dan ketersediaan fasilitas pendidikan yang kini mampu menyaingi kualitas pendidikan diluar negeri, ternyata masih ada manusia yang harus merelakan masa mudanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari hari,,,
            Beberapa Bocah kira-kira berusia belasan tahun “NGLEKAR” di pinggiran traficlight sambil merasakan panasnya sengatan matahari menimbulkan beberapa pertanyaan negatif tentang pendidikan khususnya di Indonesia. Ketersediaan Bantuan Operasional Sekolah dan wajib belajar 9 tahun seharusnya dapat merubah keadaan ini, mereka tidak perlu membutuhkan biaya untuk SPP atau yang lain karena memang dana tersebut diperuntukan bagi siswa yang kurang mampu khususnya dalam pembelajaran wajib belajar 9 tahun.
            Namun ada beberapa faktor lain yang menyebabkan mereka lebih memilih untuk mencari nafkah dibandingkan harus menuntut ilmu disekolah yang diantaranya adalah masalah “kewajiban”. Kemiskinan menjadi masalah utama di Negara berkembang, begitu juga di Indonesia. Latar belakang itulah yang menyebabkan mereka para bocah harus merelakan indahnya masa bermain demi sesuap nasi, untuk dirinya juga keluarganya, itulah yang disebut dengan “tanggung jawab” banyak hal lain sebenarnya yang melatar belakangi mereka menjadi seorang “murah tangan”, namun yang perlu dipikirkan adalah bagaimana  supaya kesemua latar belakang tersebut tidak menjadi alasan para bocah untuk tidak sekolah. Usaha pemerintah dalam mengatasi kemiskinan harus lebih ditingkatkan dalam hal ini sebagai wujud penyelamatan generasi penerus bangsa, selain itu juga perlu adanya pemahaman yang ditumbuhkan pada setiap orang tua untuk lebih mementingkan pendidikan anaknya, karena dengan pendidikan yang cukup saya yakin mereka bisa mendapatkan lebih dari sekadar menunggu belah kasian orang di jalan,,
            Sebagai warga yang lebih terpelajar mari kita renungkan bersama keadaan yang memilukan ini sebagai wujud keprihatinan kita terhadap mereka generasi penerus bangsa.

Rabu, 30 Januari 2013

SERasa




Gundah saat mata terjaga
Silau meskipun tertutup kelopak
Melirik takut tak melirik berdetak kencang jantungku
Diam bagai terguncing berpolah bagai digunting
                Aku hanya numpang bernafas disini
                Hanya sehirup udara  yang ku minta
Tak akan udaramu yg ku hirup
Tak juga pemandangan indahmu ku tatap
Aku hanya memijak sejengkal tanah
Hanya sejengkal yang ku minta
Bukan tanah tempat istanamu menjulang
Bukan juga Altarmu yang kujadikan tempat bersandar
Aku tak tertarik untuk hidup di duniamu
Lebih baik aku mersakan sesak nafas daripada aku menghirup hak udara saudaraku yang kini juga merasa sesak..
Aku lebih memilih ikut merasakan sesak daripada menyesakkan…